Jumat, 08 September 2017

Kepala Botak Bisa Disebabkan Oleh Stres

Curae canitiem inducunt - kekhawatiran membawa rambut abu-abu. Seperti kata Latin. Tapi ternyata lebih dari itu, perhatian bukan hanya membuat rambut kita kelabu, tapi juga membuatnya terjatuh.

Rambut rontok adalah sesuatu yang bisa mengganggu penampilan. Apalagi jika Anda melakukannya sampai Anda mengalami kebotakan. Nah, banyak yang menduga bahwa stres bisa menghambat pertumbuhan rambut sehingga Anda bisa mengalami kebotakan.

Stres, terutama yang disebabkan oleh psikososial, dilaporkan memainkan peran penting dalam awitan kebotakan. Menurut penelitian, jumlah pasien dengan kebotakan dipicu oleh stres tercatat pada 6,7 ​​sampai 96 persen.

Nah, stres psikososial itu sendiri terjadi saat Anda merasakan ancaman dari lingkungan sosial. Misalnya saat Anda merasa sangat tertekan dengan keberhasilan rekan kerja Anda di kantor sehingga mereka menjadi tidak aman dan ambruk. Atau saat Anda merasa dikecualikan oleh teman yang sering pergi bersama tanpa mengundang Anda.

Stres jenis ini biasanya memiliki dampak yang besar terhadap kesehatan. Pasalnya, stres psikososial menyebabkan korban merasa terasing, sendiri dan tanpa dukungan. Salah satu efek kesehatannya adalah menyebabkan rambut botak karena terjatuh.

Bagaimana stres bisa menyebabkan kebotakan? Ada tiga jenis kebotakan yang bisa disebabkan oleh stres yang berlebihan.

Yang pertama adalah Alopecia areata (kebotakan) adalah proses peradangan atau penyakit autoimun yang timbul dengan rambut rontok. Banyak faktor yang mempengaruhi kebotakan termasuk penyakit autoimun, genetik, emosional dan lingkungan.

Alopecia areata menyerang kulit kepala, namun bagian tubuh yang tertutup rambut mungkin juga terkena masalah ini. Rambut rontok biasanya melingkar dan progresif, juga bisa menyebabkan kebotakan di seluruh area kepala (alopecia totalis).

Meski penyebabnya tetap tidak jelas, beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara stres dan kebotakan.

Salah satu penyebab kedua kerugian akibat stres adalah melalui telogen effluvium. Biasanya, Anda akan kehilangan sekitar seratus rambut sehari. Namun, stres bisa menyebabkan rambut rontok lebih banyak dari seharusnya. Nah, kerontokan rambut yang tidak biasa juga disebut telogen effluvium.

Rambut Anda biasanya tumbuh dalam satu siklus. Pada fase aktif, rambut tumbuh dalam beberapa tahun. Setelah fase aktif, rambut memasuki fase istirahat. Fase istirahat ini berlangsung sekitar tiga bulan setelah rambut Anda terjatuh. Rata-rata, kerugian normal adalah sekitar 100 rambut per hari. Rambut akan diganti dalam waktu enam bulan oleh rambut baru.
Bila Anda stres atau merasakan turbulensi emosional yang negatif, rambut Anda akan jatuh lebih mudah. Saat Anda stres, sebagian besar rambut Anda akan masuk ke fase istirahat sebelum tiba waktunya. Dan tiga bulan kemudian, rambutnya akan jatuh.

Penyebab ketiga adalah trichotillomania, kebiasaan menarik rambut tanpa disadari oleh stres atau kecemasan. Hal ini bisa merusak rambut dan menyebabkan rambut botak karena terlalu sering diangkat.

Jadi bagaimana Anda mencegah rambut botak saat terkena stres?

Perubahan gaya hidup sederhana saja bisa membantu mengurangi kebotakan. Misalnya, dengan cukup tidur (sekitar 7 jam), banyak minum air putih dan makan makanan kaya protein.

Nutrisi merupakan hal yang penting bagi pertumbuhan rambut. Hubungan antara makanan dan rambut sangat dekat. Rambut terbuat dari protein yang disebut keratin. Karena itu, Anda harus meningkatkan asupan protein Anda.

Kurangnya konsumsi protein memaksa tubuh Anda untuk menyimpan protein yang ada untuk keperluan lain, seperti pembentukan sel. Hal ini diyakini bahwa bayam, kacang-kacangan, tahu dan susu adalah makanan yang baik untuk kesehatan rambut. Teh hijau juga baik untuk menghambat Dihydrotestosterone (DHT), hormon yang menyebabkan rambut rontok.